Jodoh = Kecewa ??

Nyari pasangan hidup, banyak orang bilang susah2 gampang. Masalahnya, bagaimana caranya agar jodoh yang datang itu ngga bikin kita kecewa di kemudian hari..
 
Dalam menyikapi dunia perkawinan, sebenarnya kita punya tiga antena yang dapat dijadikan pegangan sebelum melangkah lebih jauh, yaitu pikiran, perasaan, dan gairah (penampilan fisik). Bila ketiganya bekerja secara seimbang saat kita mencari pasangan hidup, hampir bisa dipastikan kita akan menemukan the perfect one yang dapat memenuhi kebutuhan praktis, emosi, dan gairah kita.
 
Kondisinya akan terbalik jika salah satu dari unsur tersebut mendominasi. Faktanya akan terlihat saat hubungan berjalan, lama kelamaan kita akan sadar betapa tak cocoknya pasangan kita itu. Lalu, bagaimana tips menyikapinya kalau salah satu antena perkawinan itu kondisinya mendominasi dalam perilaku keseharian pasangan kita? Berikut inilah yang harus disikapi secara bijak dalam mempersiapkan dan membangun dunia perkawinan.
 
Pertama, Perasaan terlalu dominan. Kalau kita amati, manusia itu memiliki kecenderungan mabuk kepayang bila sedang jatuh cinta. Semuanya terlihat indah, ketika pasangan kita memberikan perhatian sehingga apa pun yang dilakukan pasangan kita seakan-akan dapat memenuhi kebutuhan kita. Artinya, meskipun limpahan perhatian itu akan menyenangkan di awal-awalnya. Akan tetapi, bila hal itu tidak didukung dasar yang kuat, pasti lama kelamaan hubungan akan jadi hambar. Bila kamu tidak segera menghentikan sikap tersebut, jangan heran kalau kamu akan sering patah hati.
 
Untuk itu, bila perasaanmu terlalu dominan, cobalah belajar untuk berpikir lebih logis. Saat seseorang sedang dimabuk cinta biasanya ia sangat sulit untuk bersikap rasional. Sebagai solusinya, sebelum terlibat lebih jauh dengan pasangan, tanyalah pada diri sendiri: "Seperti apa pasangan kita bila sedang dalam kesulitan?".
 
Hati-hatilah pada pasangan yang langsung mengobral rayuan begitu ketemu dengan kita. Sejatinya, tipe seperti ini hanya berusaha menarik keuntungan tertentu dari diri kita. Di sini, coba mengetesnya dengan membuat dialog percakapan yang sedikit serius dan berbobot. Misalnya, membicarakan hobi masing-masing atau buku/film terbaru yang sedang ramai dibicarakan orang. Lalu lihat reaksinya, bila dia terus berusaha mengalihkan pembicaraan pada rayuan tentang besarnya cinta pada kita, maka kemungkinan besar sikapnya itu palsu.
 
Selain itu, tanyakan pada hati nuranimu apakah selain mencintainya, kamu juga bisa menghormatinya, dirinya dan tujuan hidupnya? Yang tidak kalah penting adalah apakah pasanganmu itu memiliki rencana masa depan yang jelas dan apakah kamu yakin ia mampu melakukannya? Kalau kamu ngga yakin, mendingan hindari dia sebelum terpikat lebih jauh dan jatuh dalam rayuannya.
 
Kedua, kalau kita didominasi gairah. Kita biasanya akan langsung jatuh cinta pada pasangan yang menggairahkan dan berharap kondisi itu akan segera diikuti dengan perasaan dan hubungan yang lebih serius. Padahal, walaupun pasangan kita kelihatan tertarik sama kita, tak berarti ia akan jatuh cinta sama kita.
 
Untuk itu, tips menghadapi kondisi yang didominasi gairah (penampilan fisik) ialah gunakanlah akal sehat dan ikuti kata hati dengan benar. Orang yang sangat dikendalikan gairah harus tahu bahwa sebenarnya otak adalah organ seksual yang paling penting dalam hidup. Artinya jika otak kita memberi isyarat bahwa seseorang menarik maka kita akan lebih terstimulasi dibandingkan dengan jika hanya melihat sekilas.
 
Realitasnya, kalau kamu melihat penampilan seseorang yang membuatmu bergairah, cobalah ajak ngobrol terlebih dahulu. Amatilah apakah intelektual, sense of humor, dan kepandaiannya berbicara juga membuat kamu tertarik? Bila tidak, bisa jadi hubungan yang terjalin tak akan lama.
 
Ketiga, kalau kita terlalu rasional. Fakta memperlihatkan kebanyakan dari kita dalam menentukan pasangan itu seperti ketika memilih jawaban yang tepat dari soal pilihan berganda! Kita menginginkan pasangan kita itu sangat ideal, seperti berpenghasilan besar, memiliki masa depan stabil, dan ingin berkomitmen. Ngga salah juga sih, tapi ngga ngelihat realitas yang ada.
 
Untuk itu, bila rasa rasionalmu terlalu mendominasi maka cobalah untuk berusaha bebaskan hatimu dan cobalah bergairah dalam memilih pasangan. Kalau kamu terlalu sibuk memikirkan hubungan yang sempurna sehingga melewatkan satu hal penting di luar ketiga antena tadi. Artinya apakah pasanganmu yang secara rasional sempurna itu dapat memuaskan kamu? Sehingga bila fokusnya hanya pada kualitas luarnya saja, kamu mungkin ngga sadar kekurangan mereka secara emosional. Inilah yang kelihatannya banyak diabaikan pasangan perkawinan akhir-akhir ini.
 
Akhirnya.... "Perhatikan apa yang dibicarakannya. Apakah kamu merasa bahagia saat bersamanya? Apakah ia memberi perhatian dan sikap manis ke kamu? Seberapa besar ketertarikan kamu padanya? Kualitas-kualitas ini lebih penting daripada besarnya pendapatan atau kesuksesan kariernya."

Tidak ada komentar: